Dua Bukit
Ada dua bukit lagi yang harus kami lewati. Kami berangkat menjelang sore karena persiapan harus matang baik itu mental maupun perbekalan perlu dicek dengan seksama agar lancar dalam perjalanan dan di hutan nanti.
Dibatas kota kami menumpang mobil pick up pengangkut sayuran dengan jalanan yang terus menanjak, berangkat berenam termasuk senior kami satu orang yang sudah berpengalaman, dia sudah sering melakukan ekspedisi kepuncak-puncak gunung didalam kota dan diluar kota. Sampai dipertigaan jalan menuju hutan kami meminta berhenti dan meneruskan dengan berjalan kaki hari mulai sore dan udara dingin mulai terasa tapi perjalanan masih jauh, setelah melewati beberapa rumah yang berjauhan diperkampungan dekat hutan, kami harus melewati dua bukit yang curam.
Kami menyusuri bukit tanpa melewati jalan yang biasa dilewati penduduk, satu dua kali kami bertemu dengan petani yang hendak pulang dari berkebun, semakin masuk kepinggiran hutan semakin dingin dan segar udara yang kami rasakan, rasa capek tidak lagi kami perdulikan, kadang kita masuk kesarang babi hutan yang sepintas mengerikan jika harus bertemu langsung dengan penghuninya yang bisa membuat kita babak belur, tapi kami percaya pada intruksi dari senior kami, “Jangan takut, kalo mengembang berarti penghuninya sedang keluar,” Katanya, saat menuruni tebing yang curam kami berpegangan pada akar dan pohon-pohon kecil yang dilewati, rasa takut sudah tidak ada lagi, sebaliknya kami merasa senang dalam petualangan ini.
Baru satu bukit yang kami lewati, sekarang harus menaiki tebing yang cukup tinggi, seorang sudah siap diatas dengan mengikatkan tali pada sebuah pohon dan satu persatu mulai menaiki sisi tebing yang penuh dengan semak belukar, akhirnya kami semua sampai diatas, karena hari sudah sore kami memutuskan untuk berkemah, maka kami mencari tempat yang bagus untuk mendirikan tenda didekat mata air supaya tidak susah untuk memasak, setelah mendirikan tenda, garam ditaburkan disekeliling tenda untuk mencegah binatang ular masuk kedalam tenda dan berdo,a agar diberikan keselamatan karena kami sudah berada dalam hutan setelah beristirahat sejenak, langsung menyiapkan makan. Perbekalan makanan beras plus bumbu, ikan asin (ikan kering) dan mie instan yang kami bawa harus dimasak terlebih dahulu, untuk menghemat kami memasak sebagian beras (nasi) dan ikan sedangkan Mie Instan dan beras kami sisakan, untuk makan berikutnya.
Hari menjelang malam gelap menyelimuti sekitar tenda, gemericik air sungai terdengar disela-sela obrolan, api unggun mulai dinyalakan untuk mengusir dingin dan menjaga dari binatang buas. Teman-teman mulai merebahkan tubuhnya diatas matras dan masuk kedalam sleeping bag yang mereka bawa. Semakin larut semakin dingin menusuk kulit, kami berjaga bergantian sesuai dengan kesepakatan bersama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar